Archive for Review Media, Lokasi, dan Event

Jermal, Jaya, dan Laut

Jermal adalah tiang-tiang pancang di tengah lautan yang menopang gubuk-gubuk kumuh dan kotor. Jermal adalah tempat anak-anak pekerja di bawah umur bekerja siang dan malam untuk kehidupan keluarga mereka yang ada daratan. Jermal pun adalah tempat pelarian yang tidak nyaman bagi mereka yang melarikan diri dari kehidupan darat. Mungkin bagi kebanyakan dari kita Jermal adalah sebuah tempat yang tak terbayangkan rasa, bentuk, dan baunya. Hal itu pun yang terjadi pada semua orang yang baru tiba di Jermal. Sampai tiba saatnya dimana mereka harus membiasakan diri untuk tidur, makan, dan buang hajat di atas Jermal.

Tersebutlah Jaya seorang bocah kecil dan kurus kering berotak pandai. Calon professor dan kolektor serangga yang terampil mengoperasikan komputer. Jaya adalah anak rumahan yang tidak terbiasa untuk hidup di tengah ganasnya lautan. Jaya adalah pelaku otak bukanlah pelaku otot, yang lebih lihai untuk berpikir daripada berkelahi. Dia bukanlah anak yang ideal untuk dipekerjakan mengangkat jaring dari laut maupun membersihkan darah ikan yang bertebaran di lantai.

Jaya tidak datang ke Jermal untuk uang ataupun untuk melarikan diri. Tidak pernah terpikir olehnya untuk melabuhkan diri di Jermal apabila bukan karena pesan terakhir dari ibunya. Dengan surat sebagai wasiat penutupan kehidupan sang bunda, Jaya berangkat ke Jermal untuk bertemu seseorang yang dapat ia sebut sebagai bapak.

Di dalam sebuah novel berjudul Jermal, Yokie Aditya berusaha menceritakan sebuah realita tentang kehidupan di dalam Jermal yang dibalut oleh romantisme pribadi dari seorang bocah bernama Jaya. Kehidupan di Jermal yang merupakan sebuah tempat penangkapan ikan di tengah laut diceritakan dari sudut pandang Jaya. Dia yang dulunya adalah seorang bocah manja harus membiasakan diri dengan kehidupan keras di Jermal. Bocah pemalu yang bukan hanya harus membiasakan diri dengan tajamnya air garam yang mengikis kulit maupun terpaan panas matahari yang membakar kepala. Tetapi harus juga bertahan hidup dari hukum Jermal yang tumbuh tanpa pembatasan dari norma-norma manusia daratan.

Buku ini bercerita tentang dampak dari kemiskinan terhadap anak-anak yang terpaksa menjadi pekerja di bawah umur. Tidak ada anak yang ingin pergi ke Jermal, mereka semua ingin pergi bermain bola di lapangan lumpur yang becek. Tetapi dengan pergi ke Jermal-lah mereka dapat membantu kehidupan ekonomi keluarga mereka yang berada di daratan.

Cara bercerita Yokie yang  tidak rumit dimana dia menggabungkan kekerasan hidup di Jermal dengan pandangan kesederhanaan hidup dari mata anak-anak, membuat buku ini menarik untuk dibaca. Hubungan ayah dan anak yang penuh pergulatan emosi pun digambarkan dengan sederhana, tanpa banyak kata-kata, dan minim intrik yang berlebihan ala sinetron.

Sebenarnya masih banyak sisi yang dapat dikembangkan dari novel Jermal ini, tapi sepertinya sang penulis ingin fokus kepada hubungan emosional antara ayah dan anak tersebut. Saya pun sampai sekarang tidak tahu dimana persisnya letak dari Jermal yang ada di dalam kisah ini. Satu-satunya informasi adalah sebuah kalimat yang menyatakan kalau pusat penangkapan ikan tengah laut ini berada di suatu tempat di wilayah perairan Sumatera. Novel ini sangat tipis dan tanpa basa-basi, yang sangatlah cocok untuk menggambarkan kondisi Jermal dimana mereka hanya perlu untuk bekerja dan mimpi-mimpi indah bermunculan seperti buih di lautan yang timbul dan meletus hanya dalam jarak kedipan mata.

 

Judul Buku : Jermal

Penulis      : Yokie Adityo

Penerbit    : PT. Bentang Pustaka

Distribusi   : Mizan Media Utama

Tahun       : 2009

Trackpacking: Berbagilah Jejakmu Indonesia

Indonesia adalah negeri kepulauan, kelautan, dan kehutanan yang kaya akan keindahan serta keberagaman alamnya. Selain itu Indonesia juga memiliki berbagai budaya dan kesenian yang unik dan memiliki nilai filosofis yang tinggi. Kekayaan alam dan budaya dari negeri ini telah membuatnya sebagai salah satu tujuan perjalanan utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara dengan macam berbagai cara. Salah satu cara perjalanan yang sedang ngetrend belakangan ini adalah perjalanan dengan ber-backpacking, yang selain lebih terjangkau secara harga juga lebih memberi makna dalam prosesnya.

Backpacking itu sendiri adalah istilah bagi sebuah proses perjalanan independen dari satu titik geografis ke titik geografis lainnya dengan budget rendah. Backpack alias tas punggung melambangkan kebebasan dan kesederhanaan dalam melakukan perjalanan. Bebas karena kita sendiri yang menentukan destinasi serta cara kita melakukan perjalanan. Juga sederhana karena seorang backpacker tidak memerlukan fasilitas yang mewah untuk dapat menikmati sebuah perjalanan.

Berawal dari minat dan keinginan untuk berbagi informasi tentang backpacking maka beberapa tahun lalu sekelompok anak muda mendirikan sebuah platform social network lokal bernama TrackpackingTrackpacking mulai aktif di dunia maya sejak 07 Juli 2011 yang didirikan oleh empat orang yang terbagi dalam dua peran besar yaitu tim teknis dan tim komunitas. Dari tim teknis terdapat nama Kurniawan Aji Saputra (web developer) dan Baga (web design). Sedangkan tim komunitas dikoordinir oleh Ilma Dityaningrum dan Khemal Nugroho. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan dari masing-masing anggota tim, saat ini hanya Aji saja yang masih secara konsisten mengelola Trackpacking.

Nama Trackpacking berasal dari kata tracking dan backpacking. Tracking digambarkan sebagai proses dalam menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi atau mencari tempat-tempat yang baru untuk dikunjungi. Sedangkan backpacking adalah salah satu cara untuk melakukan tracking yaitu dengan menggendong tas punggung selama perjalanan. Gabungan dari dua kata itulah yang membentuk kata Trackpacking.

Aji bercerita pada saya bahwa pada awalnya dia banyak mendengar cerita tentang dunia backpacker dari Khemal yang membuat dia cukup tertarik. Namun mereka melihat kalau komunikasi antar backpacker kebanyakan lewat forum dan social network, yang ternyata belum mempunyai fitur khusus yang bisa mengakomodasi kebutuhan para backpacker atau traveller. Dari situlah muncul sebuah ide untuk membuat sebuah platform social network dengan fitur-fitur yang disesuaikan dengan kebutuhan para backpacker dan traveller. Harapan mereka dengan diciptakannya social network ini dapat memenuhi kebutuhan para backpacker dan memperkenalkan backpacking ke khalayak yang lebih ramai.

Perkembangan Trackpacking

Apabila dilihat perkembangannya semenjak berdiri sampai sekarang, respons para pengguna internet terhadap Trackpacking pada saat ini terbilang cukup bagus. Apalagi untuk kategori travel, situs dengan kategori travel banyak dicari pengguna internet untuk mencari informasi tempat untuk liburan. Karena Trackpacking adalah situs kategori travel yang dikemas dalam bentuk social network, maka para trackpacker (user Trackpacking) bisa saling berinteraksi satu sama lain. Baik itu saling berbagi catatan perjalanan, meng-upload foto, ataupun berbagi info trip. Sedangkan dilihat dari statistik, trackpacker dan akses mereka di Trackpackingsemakin bertambah. Sampai saat ini trackpacker yang terdaftar di dalam databaseTrackpacking kurang lebih sebanyak delapan ribu orang. Sedangkan untuk kunjungan di website Trackpacking setiap bulannya dikunjungi kurang lebih sebanyak seratus sepuluh ribu pengunjung.

Respons dari user sendiri terbilang cukup bagus dimana selain jumlahnya yang terus meningkat, tingkat aktivitas dari setiap user ketika masuk ke situs Trackpacking juga mengalami peningkatan. Beberapa ada yang langsung saling kenalan viaTrackpacking dan ada juga yang langsung mengadakan trip bersama alias backpackeran rame-rame. Tentu saja memamerkan foto-foto perjalanan adalah kegiatan yang paling banyak disukai.

Visi jangka panjang Trackpacking adalah menjadi portal wisata Indonesia  bagi  wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik, terutama untuk berwisata dengan cara backpacking. Dimana mereka dapat menemukan informasi lengkap tentang lokasi tempat wisata, tempat menginap, akomodasi kendaraan, kuliner dan lain-lain.

Pada saat ini Trackpacking baru dapat menghidupi situs itu sendiri dan belum sanggup menghidupi mereka yang berada di belakangnya. Walaupun begitu Aji memiliki keyakinan yang besar kalau Trackpacking memiliki masa depan yang cerah. Sebagai catatan bahwa Trackpacking baru saja menjadi salah satu pemenang dalam Sparxup 2012 untuk kategori social network, yang merupakan sebuah kompetisi yang cukup bergengsi bagi startup lokal.

Alamat Situs: www.TrackPacking.com

Bukan Tentang Posisi Tubuh Tapi Posisi Pikiran

“Perhatikanlah seseorang yang sedang duduk diam tanpa melakukan apapun. Dari luar mungkin kita melihatnya begitu tenang, tapi apa yang bergejolak dalam pikirannya mungkin saja tidak setenang duduknya”

~Anonim~ 

Sekitar sebulan yang lalu saya membeli sebuah buku berjudul “Quiet Sitting: The Daoist Approach For A Healthy Mind And Body” yang ditulis oleh Chen Yingning & Jiang Weiqiao. Sebuah buku tentang metode meditasi bernama jinggong (quite sitting) yang telah lama dipelajari dan diterapkan oleh praktisi-praktisi dari negeri Cina. Buku tersebut terbagi menjadi tiga bagian besar dimana yang pertama membahas tentang konsep besar dari buku ini dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab mengenai metode jinggong. Yang kemudian diakhiri dengan tutorial tentang bagaimana para pembaca buku tersebut dapat mendalami metode ini sendiri.

Metode Jinggong ini berawal dari konsep qigong sebagai pemikiran dasarnya, yang berasal dari kata qi (energi) dan gong (keahlian). Kata qigong yang mengandung pengertian sebagai keahlian untuk menarik energi vital dipandang oleh bangsa cina sebagai konsep berpikir yang dapat memberikan keseimbangan pada tubuh dan mental.

Aplikasi konsep qigong sendiri terbagi dalam dua bagian besar yaitu metode bergerak dan diam. Dimana metode bergerak ini didesain untuk memperkuat dan membersihkan tubuh sebagai wadah dari qi. Wadah yang terbentuk dengan baik ini diharapkan dapat membantu praktisi qigong untuk menenangkan pikiran dan melancarkan peredaran darah, sehingga aliran qi di yang berada di dalam tubuh praktisi ini dapat mengalir dengan lancar.

Sedangkan metode diam dalam konsep qigong lebih memfokuskan kepada bagaimana seorang praktisi melatih pikirannya. Karena walaupun metode bergerak membantu dalam hal membentuk tubuh yang sehat dan dapat mengalirkan darah dengan lebih baik. Pembentukan qi dianggap hanya dapat terjadi ketika metode bergerak tersebut berada di dalam posisi diam terutama duduk. Dari pemikiran inilah lahir metode jinggong yang berasal dari kata jing (diam, tenang) yang lebih memfokuskan kepada pemusatan dan ketenangan pikiran tanpa melibatkan gerakan di dalam prakteknya.

Bagi mereka yang sudah sering melihat animasi Jepang ataupun film-film kung fu mungkin sudah tidak asing lagi dengan bentuk dari metode jinggong. Di dalam metode ini praktisi berposisi duduk sila dengan kedua tangan menyatu dan mata tertutup. Praktisi tersebut berusaha untuk memfokuskan diri pada pernapasannya dan menghilangkan bermacam pikiran yang melintas.

Posisi metode jinggong dalam animasi Jepang (thedaoofdragonball.com)

Hal yang menarik dari metode ini adalah fleksibilitas yang diberikan oleh metode jinggongterhadap posisi tubuh seorang praktisi ketika melakukan metode tersebut. Di dalam buku ini dikatakan bahwa posisi yang terbaik dalam melakukan latihan ini adalah duduk sila dengan posisi double cross leg atau saling silang. Berbeda dengan duduk sila biasa ketika hanya satu telapak kaki yang berada di atas paha, di dalam posisi double cross leg kedua telapak kaki berada di atas paha dari kaki yang berlawanan.

Posisi double cross leg (en.minghui.org)

Walaupun posisi double cross leg dianggap sebagai posisi terbaik dalam melakukan metode jinggong, tapi ini bukanlah hal posisi yang baku. Di dalam buku ini dijelaskan apabila posisi ini kita anggap terlalu sulit kita dapat mencoba posisi duduk sila yang dianggap lebih mudah ataupun duduk di atas kursi. Bahkan apabila kondisi fisik kita tidak memungkinkan untuk duduk sila ataupun duduk dalam jangka waktu yang lama, kita dapat melakukannya dalam posisi tidur. Karena disebutkan bahwa seorang praktisi jinggong yang sudah sangat terlatih dapat melakukan metode jinggong dalam kondisi berjalan sekalipun.

Praktek dari metode jinggong ini dapat dikatakan sangatlah sederhana Walaupun di buku ini dibahas beberapa hal yang cukup detail, secara garis besar metode ini memfokuskan tentang bagaimana kita memusatkan diri pada tarikan serta hembusan nafas kita dan melepaskan berbagai pikiran yang ada di dalam otak kita. Walaupun sederhana hal tersebut ternyata amatlah sulit untuk dilakukan. Berdasarkan apa yang telah saya coba lakukan selama sebulan ini selalu saja ada pikiran yang berkelebat di dalam kepala, baik itu hanya sedikit maupun cukup besar untuk mendominasi otak ini. Baik itu kenangan-kenangan di masa lalu ataupun rencana-rencana di masa depan. Sepertinya sangat sulit untuk memfokuskan diri pada nafas yang saya hirup dan hembuskan di masa kini.

Sepertinya benar ketika dikatakan kalau sangat sedikit sekali manusia yang hidup di masa kini. Sebagian manusia hidup di dalam kenangan-kenangan masa lalu mereka baik itu memori indah, kekecewaan, maupun penyesalan. Sedangkan sebagian lagi hidup di dalam impian dan kekhawatiran akan masa depan. Hanya sedikit sekali yang mampu hidup di masa kini dan melangkah di dalam tiap hembusan nafas.

Walaupun baru sebulan melakukannya tetapi metode jinggong ini telah cukup banyak mengajarkan saya tentang bagaimana untuk hidup di saat ini. Bukan berarti kita tidak perlu memikirkan masa depan ataupun melupakan untuk belajar dari masa lalu. Hanya saja terkadang proporsi dari kedua masa tersebut terlalu berlebihan sehingga melepaskan seseorang dari kehidupannya di masa kini. Itulah mengapa di dalam metode jinggong posisi tubuh tidaklah terlalu penting. Karena bagaimanapun posisi tubuh kita dan di dalam kondisi apapun kita berada, asalkan pikiran kita terletak pada posisi yang tepat kita tidak akan kehilangan qi atau energi dari dalam diri kita.

 

Referensi:

Quiet Sitting: The Daoist Approach For A Healthy Mind And Body, Chen Yingning & Jiang Weiqiao, Better Link Press, 2012.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers

Switch to our mobile site